Malang : Kota Dataran Tinggi Bisa Banjir?

Illustrasi (Sumber : Republika)

Oklick.id – Lagi lagi banjir kembali terjang kota Malang. Fenomena alam ini sering kali terjadi di berbagai wilayah sifatnya merusak dan merugikan masyarakat yang terdampak oleh banjir. itu banjir tidak terjadi di wilayah aliran sungai saja namun juga bisa terjadi di wilayah yang bahkan jauh dari wilayah sungai sekalipun bahkan di dataran tinggi seperti Malang yang memiliki titik terendah 440m atau sekitar (1440 kaki) dan memiliki titik ketinggian 667m atau sekitar (2188 kaki) di atas permukaan air laut,hal ini menjadikan kota Malang dengan fenomena banjir menjadi sangat asing bagaimana bisa kawasan dengan daerah dataran tinggi bisa terjadi banjir hal ini tidak jauh dari karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat maka menjadikan kota Malang seperti halnya daerah dengan kawasan padat penduduk dan juga jalan jalan yang tidak memiliki resapan air yang baik dan berimbas banjir yang terjadi bayangkan setiap orang yang datang kesini membawa 1kg sampah dan menurut catatan kominfi.jatimprov.go.id dari badan pusat statistik kota Malang tercatat penduduk pada bulan september di tahun 2020 sebanyak 843.810 jiwa yah sudah bisa dibayangkan betapa banyaknya yang akan dibuang oleh setiap warga malang hal ini lah yang memiliki andil besar terhadap banjir tersebut.

Selain itu Banjir ada dikarenakan meluapnya air sungai yang disebabkan oleh debit sungai yang melebihi daya tampung pada keadaan curah hujan yang cukup tinggi yang mana terjadi pada daerah tertentu yang biasanya tidak tergenang, genangan air yang tidak sepenuhnya mampu diserap oleh tanah maka akan terjadi fenomena banjir tersebut selain dikarenakan oleh tanah pengaruh masyarakat sendiri dalam perawatan lingkungan sekitar juga memiliki dampak apabila masyarakat sekitar melakukan kegiatan yang kurang terpuji seperti melakukan pembangunan tanpa perhitungan yang matang dan memblokade area resapan air maka tidak akan dipungkiri banjir akan terjadi .

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab dari banjir itu sendiri yang mana nanti akan dijelaskan lebih lanjut. 

1.   Curah hujan yang tinggi 

2.   Lereng asdak/ kemiringan lereng yang landai

3.   Drainase jaringan pembuangan air

4.   Bentuk lahan 

5.   Penutupan lahan atau penggunaan lahan untuk suatu fungsi 

Kota malang merupakan daerah yang berada di kawasan dataran tinggi yang memiliki topografi bergelombang yang mana dengan model seperti ini justru tempat yang tidak mengalami kebanjiran namun yang terjadi wilayah sukarno hatta yang ada di Malang malah mengalami kebanjiran dengan tinggi yang bisa mencapai leher orang dewasa.

Kawasan Soekarno Hatta, Malang telah menjadi kawasan yang menjadi langganan banjir. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan beberapa titik pada kawasan tersebut digenangi air yang mencapai tinggi lebih kurang hingga 1,5 meter. Laju air di jalan Soekarno Hatta sebagian besar mengalir deras ke arah utara, memasuki jalan Sudimoro yang lebih rendah permukaannya. 

Edi, salah satu seorang pengusaha warung makan di jalan Sudimoro yang menjadi korban banjir ketika curah hujan tinggi. Tak hanya air yang mengalir deras dari jalan Soekarno Hatta, namun meluapnya air sungai dengan ukuran kecil yang tak mampu lagi menampung air dengan kapasitas tinggi serta kurang memadainya saluran air menjadikannya daerah tersebut sering tergenang air. 

“Iyaa pokokonya kalau hujan itu mesti banjir mbak. banjirnya bisa setinggi orang, 1,5 meteranlah.” Jelas Edi kepada tim Oklick.

Malang menjadi salah satu tujuan banyak orang khususnya di wilayah Jawa Timur. Karena Malang dikenal sebagai wilayah dataran tinggi dengan hawanya yang dingin, banyak Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta yang ternama. Dan juga dekat dengan pegunungan, sehingga banyak yang menjadikan Malang sebagai tujuan melanjutkan studi, bekerja, hingga berinvestasi properti di Malang karena ramainya wisatawan. Benar saja, dikutip dari website Pemerintah Kota Malang bahwa Kota Malang berada di ketinggian sekitar 440-667 meter diatas permukaan laut. Selain itu, yang membuat hawa Malang terasa menjadi lebih dingin dibanding wilayah lainnya karena Malang dikelilingi oleh gunung-gunung, antara lain. Gunung Arjuno di sebelah utara, Gunung Semeru di sebelah timur Gunung Kawi dan Panderman di sebelah barat dan Gunung Kelud di sebelah selatan. Dataran yang tinggi dan hawa yang dingin membuat Malang cocok untuk pertanian dan perkebunan, serta cocok untuk menjadi wilayah rujukan untuk melanjutkan studi, wisata dan investasi. Maka tak heran jika banyak perantau serta wisatawan di Kota Malang. Data penduduk Kota Malang menurut Badan Pusat Statistik wilayah Kota Malang pada tahun 2019 ada 870.682 jiwa dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 874.890 jiwa.

Banjir di Jl. Galunggung Kota Malang mencapai perut orang dewasa (Sumber : Merdeka)

Dan jika dikaitkan dengan terjadinya banjir di Kota Malang. Selain karena faktor alam, bertambahnya penduduk menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Karena minimnya kesadaran masyarakat yang kurang terhadap kebersihan, terjadinya penyumbatan pada drainase yaitu sampah dan sedimen. Sehingga, dikutip dari iNews Jatim Alie Mulyanto sebagai Kepala BPBD Kota Malang mengatakan bahwa “penyebabnya adalah di drainase, yang jelas kami bersama Dinas PUPR, PMI hingga DLH terus berupaya memperbaiki drainase dan sampah serta sedimen yang menyumbat”. Ali menambahkan bahwa ada Gerakan Angkut Sampah dan Sedimen (GASS) untuk drainase agar lebih baik. Curah hujan yang tinggi juga karena adanya fenomena La Nina yang diprediksi hingga awal April 2021. Dan jl. Soekarno-Hatta menjadi salah satu wilayah yang langganan banjir.

Dilansir dari situs Malang Post, walikota Malang Sutiaji mengatakan “saya tidak mengkambinghitamkan masyarakat. Tapi saya pernah tahu dengan mata kepala sendiri. Ada warga yang membuang sampah kasur di sungai. Tolong bahu membahu. Hujan adalah rahmat. Tapi jangan dijadikan malapetaka”. Saluran air yang dibuat, harusnya cukup untuk menampung air. Hanya saja sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat menjadi kendala. Dalam situs Malang Post Kepala Dinas PUPRPKP Kota Malang Hadi Santoso mengatakan bahwa petugas menemukan kayu gelondongan di saluran air, dari situlah terjadi penyumbatan.

Aruh deras setelah hujan deras (Sumber : Nusa Daily)

Curah hujan yang cukup tinggi di daerah Malang membuat debit air meningkat di musim penghujan. Jln Soekarno-Hatta memiliki dua sistem Drainase yang di mana berfungsi untuk mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota dan daerah urban dari genangan air. Serta ada Sumur Resapan yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan dan menerapkannya ke dalam tanah, lalu ada juga Sumur Injeksi yang berfungsi sebagai memasukkan atau meresapkan air permukaan ke dalam lapisan tanah (akuifer), baik akuifer tak tertekan maupun akuifer tertekan.

Namun Itu semua tidak dapat menampung debit air yang turun sehingga membuat beberapa kawasan di sekitar suhat mengalami banjir tinggi. Dengan Debit air yang tinggi dibutuhkan lebih banyak lagi Sumur resapan dan Sumur injeksi, namun yang Tim oKlick temukan di lokasi hanya sekitar empat sampai lima saja sumur resapan di sana yak masih layak. Sumur resapan banyak yang sudah di cor oleh semen dan ditimbun bebatuan di sisi jalan. Karena banyaknya pembangunan di sana membuat Sumur Resapan ini tertimbun dan ditutup.

Pada tahun 2019 silam Malang pernah menorehkan sejarah dengan banjir yang cukup tinggi dengan hanya waktu 40 menit turun hujan tinggi air sudah setara dengan bahu orang dewasa. Penyebab Nya adalah saluran Drainase tersumbat sehingga hanya mengandalkan satu sistem Drainase saja dan juga minimnya sumur resapan akibat pembangunan jalan dan banyak sumur resapan yang di cor. Lalu naiklah volume air dan tidak dapat ditampung oleh sistem alternatif di tambah curah hujannya yang cukup tinggi.

Lereng Asdak Berdasarkan hasil interpretasi yang dilakukan, pada wilayah kajian terdapat 2 (dua) kelompok satuan geomorfologi utama, yaitu satuan bentuk lahan vulkanik dan satuan bentuklahan fluvial. Kemiringan lereng merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menentukan potensi genangan banjir. Secara spasial, kelas kemiringan lereng curam yang mendominasi daerah Mt. Hariono dan Soekarno Hatta, berada di sisi barat laut, timur dan sedikit di tengah. Kelas kemiringan lereng cekung hingga landai (<8%) membentang dari selatan ke utara. Artinya curah Curah hujan di Malang harusnya rendah namun akibat dari perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi serta curah hujan yang tinggi bisa saja terjadi. Wilayah kota Malang yang mempunyai potensi genangan sangat tinggi sebagian besar berada di wilayah kecamatan Kedungkandang, Soekarno Hatta dan potensi genangan terendah berada di kecamatan Lowokwaru.

Terdapat sedikit perbedaan antara hasil perhitungan kerawanan genangan dengan kenyataan kejadian di lapangan yang disebabkan kelemahan metode bilangan kurva hanya menitik beratkan pada tingkat infiltrasi tutupan lahan saja tanpa memperhitungkan geometri dan, geometri sungai, dan pola aliran dikutip dari Researchgate   kemiringan lereng pada kecamatan Lowokwaru rata-rata > 6%,  sehingga meskipun limpasan yang terjadi cukup tinggi maka tidak akan terjadi genangan karena langsung dialirkan. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa faktor yang lebih dominan menyebabkan kerawanan genangan adalah tingkat potensi genangan, dimana parameter fisik lahan yang dominan menyebabkan terjadinya potensi genangan adalah kemiringan lereng. Namun yang terjadi malah berbalik dari yang seharusnya tidak akan terjadi genangan air malah berubah menjadi genangan air yang tingginya bisa mencapai pinggang orang dewasa. Dapat disimpulkan jika Letak geografis sudah diketahui dan mengatakan tidak akan ada genangan air atau banjir di posisi lereng miring landau. Tetap yang dibutuhkan cukupnya penyediaan sumur resapan dan sungai yang mengarahkan air hujan langsung ke laut atau biasa disebut sistem Drainase Karena debit air hujan yang turun sangat tinggi maka dibutuhkan penampung yang juga lebih besar guna meminimalisir banjir di musim penghujan. (*)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: